My Instagram

Diberdayakan oleh Blogger.
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI
IDENTIFIKASI 1

Disusun oleh :
            Nadila Amalia Agustiantri          10060315121
            Regita                                          10060315123
            Winnie Sri Widyastuti                 10060315124
             Sany Aulia Sabathini                   10060315125
Shift / Kelompok : E / 2
Asisten :
Ruhdiana Eka Putra, S.Farm
Tanggal Praktikum      : 29 Desember 2016
Tanggal Pengumpulan    : 05 Januari 2017
 

Hasil gambar untuk logo unisba 



LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT B
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2017 / 1438 H


I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
                  Tumbuhan merupakan salah satu klasifikasi makhluk hidup yang terdapat di alam. Cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang tumbuhan disebut botani. Telah menjadi pengetahuan umum bahwa hampir semua tumbuhan memiliki potensi sebagai penyembuh dari suatu penyakit. Berangkat dari pengalaman empiris mengenai penggunaan tumbuhan obat, kini para formulator obat tengah mengkaji lebih dalam tentang obat yang berasal dari tumbuhan.
                  Dalam bidang farmasi dikenal suatu cabang keilmuan yang disebut farmakognosi. Farmakognosi merupakan ilmu yang mempelajari tentang sumber bahan obat yang berasal dari alam, terutama dari tumbuhan. Bahan obat yang berasal dari tumbuhan yang belum mengalami pengolahan disebut simplisia. Dalam mempelajari khasiat farmakologis suatu tanaman, terlebih dahulu kita dituntut untuk dapat mengenal dan membedakan berbagai simplisia baik secara makroskopik maupun mikroskopik melalui proses identifikasi. Identifikasi simplisia secara makroskopik dapat dilakukan dengan mengamati bentuk, warna, bau, rasa, serta ciri khas lainnya yang mungkin dimiliki. Sedangkan identifikasi simplisia secara mikroskopik dilakukan dengan mengamati berbagai fragmen pengenal dari suatu serbuk simplisia di bawah mikroskop.
                  Penyusunan laporan identifikasi ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas pada praktikum farmakgonosi yang telah dilakukan. Adapun hal yang dipaparkan adalah penjelasan mengenai simplisia yang diamati secara makroskopik dan mikroskopik.



Tujuan
Praktikum identifikasi 1 ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat mengenal dan membedakan (mengidentifikasi) simplisia tunggal yang diberikan secara makroskopik maupun mikroskopik.
                          II.            TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Simplisia dan Pembuatannya
Tahapan Pembuatan Simplisia
1.      Pengumpulan Bahan Baku
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda, antara lain tergantung pada bagian tanaman yang digunakan, umur tanaman atau bagian tanaman saat panen, waktu panen, dan lingkungan tempat tumbuh.
2.      Sortasi Basah
Kegiatan sortasi perlu dilakukan untuk membuang bahan lain yang tidak berguna atau berbahaya. Misalnya rumput, kotoran hewan, bahan-bahan busuk, dan benda lain yang bisa mempengaruhu kualitas simplisia.
3.      Pencucian
Agar bahan baku bersih dan bebas dari tanah atau kotoran yang melekat, harus dilakukan pencucian. Pencucian bisa menggunakan air PDAM, air sumur, dan air sumber yang bersih. Bahan simplisia yang mengandung zat yang mudah larut dalam air sebaiknya dicuci sesingkat mungkin.
4.      Perajangan
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan. Perajangan bahan simplisia diakukan untuk mempermudah pengeringan, pengepakan, dan penggilingan. Tanaman yang baru diambil sebaiknya tidak langsung dirajang, tetapi dijemur dalam keadaan utuh selama 1 hari. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau atau mesin perajang khusus, sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki atau seragam.
5.      Pengeringan
Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan disimpan dalam waktu yang lama. Mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik bisa mencegah penurunan mutu atau kerusakan simplisia. Air yang masih tersisa dalam simplisia dengan kadar tertentu dapat menjadi media pertumbuhan kapang dan jasad renik lainnya.
Pengeringan simplisisa dilakukan dengan sinar matahari atau menggunakan alat pengering. Hal yang perlu diperhatikan selama proses pegerinagn adalah suhu pengeringan, kelembaban udara, aliran air, waktu pengeringan, dan luas permukaan bahan. Mengeringkan simplisisa tidak idanjurkan menggunakan alat atau bahan plastik karena kurang menyerap air.
6.      Sortasi kering
Sortasi setelah pengeringan merupakan tahap akhir pembuatan simplisia. Tujuan sortasi adalah untuk memisahkan benda – benda asing, seperti bagiann tanaman yang tidak diinginkan dengan pengotoran-pengotoran lain yang masih ada dan tertinggal. Proses ini dilakukan sebelum simplisia dibungkus/ dikemas dan disimpan.
7.      Pengepakan dan Penyimpanan
Tujuan pengepakan dan penyimpanan adalah untuk melindungi agar simplisisa tidak rusak atau berubah mutunya karena faktor baik dari dalam maupun luar, seperti cahaya, oksigen, rekasi kimia, dehidrasi, penyerapan air , kotoran, atau serangga. Penyimpanan perlu dilakukan, sebaiknya simplisisa disimpan di tempat yang kering, tidak lembab, dan terhindar dari sinar matahari langsung.

2. 2. Identifikasi Simplisia
1)      Nama Tanaman     : Daun jati belanda
      Nama Simplisia     : Guazumae Ulmifoliae Folium
      Nama Latin           : Guazuma Ulmifolia L.
                  Nama Daerah        : Sumatra : Jati blanda (Melayu)
  Jawa : Jati londa, jatos landi (Jawa)
  Inggris : Bastard cedar, jacocalalu, West Indian elm
  Prancis : bois d’orme
  Spanyol : bolaina negra, cabeza de negro, caulote,
  guácima, guácimo, guácimo, guásima.
Ø  Identifikasi Simplisia
A.    Makroskopik
Berdaun tunggal dengan warna hijau, berbentuk bulat telur sampai lanset dengan permukaan kasar, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal berlekuk, pertulangan menyirip, berseling, panjang 4-22,5 cm, dan lebar 2-10 cm. panjang tangkai daun 5-25 mm, mempunyi daun penutup berbentuk lanset atau berbentuk paku yang panjang antara 3-6 mm. Bunga berupa mayang, panjang 2-4 cm, berjumlah banyak, berbentuk agak ramping, dan berbau wangi. Panjang gagang bunga sekitar 5 mm, kelopak bunga lebih kurang 3-4 mm, tajuk terbagi menjadi dua bagian, berwarna ungu tua kadang –kadang kuning tua, buah yang telah masak berwarna hitam. (Sharmiati,2003)
B.     Organoleptik
Berwarna hijau, tepi bergerigi, ujung runcing, bunga berupa mayang dan berbau wangi, permukaan daun kasar, tulang daun menyirip.
C.     Mikroskopik
Bagian tanaman yang banyak digunakan untuk pengobatany adalah daunnya. Secara mikroskopis daun jati belanda epidermis bagian atas terdiri dari satu lapisan sel, berambut penutup, dan berambut kelenjar. Sel epidermis besar, dipenampang tangensial tanpak berbentuk polygonal, kutikula agak tebal, tidak berstomata, berambut penutup, dan berambut kelenjar. Sel epidermis bawah lebih kecil dibanding epidermis atas, dipenampang tangensial Nampak dinding samping bergelombang, stomata tipe anisosistik, berbentuk jorong, panjang 20-40 mm.(Sharmiati,2003)
Bentuk rambut penutup menyerupai bintang, terdiri dari beberapa rambut bersel tunggal yang berimpit dibagian pangkalnya, dinding tebal tidak berwarna, panjangnya berbeda-beda, dan ruang rambut berwarna coklat. Rambut kelenjar terdiri dari 2-3 sel tangkai dan 3 sel kepala dengan salah satu sel kepala lebih besar dari sel lainnya. Mesofil terdiri dari jaringan palisade dan jaringan bunga karang. Didalam mesofil terdapat hablur kalsium oksalat berbentuk prisma. Jaringan palisade terdiri dari satu lapisan sel, jaringan bunga karang tersusun rapat terdiri dari 2-4 lapisan sel. Berka spembuluh ipe kolateral disertai serabut sklerenkim dan serabut hablur yang berisi hablur kalsium oksalat berbentuk prisma. Hablur kalsium oksalat yang terdapat didalam daun lebih banyak dari pada di mesofil. Diparenkim tulang daun terdapat sel lendir atau saluran lendir. (Sharmiati,2003)
Fragmen pengenal adalahh rambut penutup berbentuk bintang, rambut kelenjar, hablur kalsium oksalat berbentuk prisma, fragmen efidermis atas dan epidermis bawah, dan pembuluh kayu dengan penebalan tangga.
D.     Organoleptik serbuk
Serbuk berwarna hijau kecoklatan sampai coklat muda, berbau khas lemah, rasa agak kelat.
2)      Nama Tanaman     : Cabe Jawa
      Nama Latin           : Piperis retrofratum Vahl.
      Nama simplisia      : Piperis Retrofracti Fruktus (buah cabe jawa)
      Nama Daerah        : Sumatra: Lada panjang, cabai jawa, cabai panjang;
        Jawa: Cabean, cabe alas, cabe areuy, cabe jawa, cabe  
        sula;
                                           Madura: Cabhi jhamo, cabe ongghu, cabe solah;
                                           Sulawesi: Cabia (Makasar).
      Nama Asing          : Inggris: Javanese long pepper,
                                     Perancis: Poivre long de java.
Sinonim                      : P. officinarum (Miq.) DC., P. chaba Hunter, Chavica
             officinarum
Miq., C. retrofracta (Vahl.) Miq.
Ø  Identifikasi Simplisia
A.    Makroskopik
Buah majemuk berupa bulir, bentuk bulat panjang sampai silindris, bagian ujung agak mengecil, permukaan tidak rata, bertonjolan teratur, panjang 2-7 cm, garis tengah 4-8 mm, bertangkai panjang.
B.     Organoleptik
Berwarna hijau coklat kehitaman atau hitam, keras. Biji bulat pipih, keras, coklat kehitaman. Bau khas, aromatis, rasa pedas.
C.     Ciri lainnya
Habitat
Cabe jawa merupakan tumbuhan asli Indonesia, ditanam di pekarangan, ladang, atau tumbuh liar di tempat-tempat yang tanahnya tidak lembab dan berpasir seperti di dekat pantai atau di hutan sampai ketinggian 600 m dpl. Tempat tumbuh tanaman merambat pada tembok, pagar, pohon lain, atau rambatan yang dibuat khusus. Cocok ditanam di tanah yang tidak lembab dan porus (banyak mengandung pasir). Perbanyakan tanaman dilakukan dengan stek batang yang sudah cukup tua atau melalui biji.
Tumbuhan menahun, percabangan tidak teratur, tumbuh memanjat, melilit, atau melata dengan akar lekatnya, panjangnya dapat mencapai 10 m. Percabangan dimulai dari pangkalnya yang keras dan menyerupai kayu. Daun tunggal, bertangkai, bentuk bulat telur sampai lonjong, pangkal seperti jantung atau membulat, ujung agak runcing atau meruncing, tepi rata, pertulangan menyirip, permukaan atas licin, permukaan bawah berbintik-bintik, helaian daun liat seperti daging, warna hijau, panjang 8,5-30 cm, lebar 3-13 cm, tangkai daun 0,5-3 cm. Bunga berkelamin tunggal, tersusun dalam bulir yang tumbuh tegak atau sedikit merunduk; ibu tangkai bunga 0,5-2 cm; daun pelindung bentuk bulat telur sampai elips, 1-2 mm, berwarna kuning selama perkembangan bunga; bulir jantan 2-8 cm; benang sari 2, jarang 3, sangat pendek; bulir betina 1,5-3 cm; kepala putik 2-3, pendek, tumpul. Buah majemuk, termasuk tipe buah batu, keras, berlekatan atau bergerombol teratur dan menempel pada ibu tangkai buah, bentuk bulat panjang sampai silindris dengan bagian ujung menyempit, warna buah merah cerah; biji berdiameter 2-3 mm (Becker, 1962:171).
Simplisia
Buah majemuk berupa bulir, bentuk bulat panjang sampai silindris, bagian ujung agak mengecil, permukaan tidak rata, bertonjolan teratur, panjang 2-7 cm, garis tengah 4-8 mm, bertangkai panjang, berwarna hijau coklat kehitaman atau hitam, keras. Biji bulat pipih, keras, coklat kehitaman. Bau khas, aromatis, rasa pedas (Becker, 1962:171)
Kandungan Kimia
Alkaloid: piperin, kavisin, piperidin, isobutildeka-trans-2-trans-4-dienamida; saponin, polifenol, minyak atsiri, asam palmitat, asam tetrahidropiperat, 1-undesilenil-3,4-metilendioksibenzena, dan sesamin (Kametani dkk, 2005:64-71)
D.    Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah sel perisperm, penuh berisi pati; fragmen endokarp terpotong tangensial dengan sel endokarp berbentuk poligonal, dinding samping berpori lebar, fragmen epidermis dari kulit biji terpotong tangensial, berbentuk persegi panjang berwarna kuning, dinding samping agak bergelombang dan berwarna kining kecoklatan; fragmen parenkim dengan kelompok sel batu dari hipodermis; fragmen kulit biji berwarna coklat atau kuning kecoklatan dan masih berlekatan dengan endokarp, terakheida serabut, dinding agak tebal, noktah berupa celah, berasal dari poros atau dari gagang buah; sel batu berukuran lebih besar dari sel batu hipodermis, berasal dari poros dan dari gagang; saluran getah pada parenkim.
E.     Organoleptik serbuk
Bau khas aromatis, rasa pedas, berwarna kelabu kecoklatan.
3)      Nama Tanaman     : Jahe
      Nama Simplisia     : Zingiberis Officinalis Rhizoma
      Nama Latin           : Zingiber officinale Roxb
      Nama Daerah        : halia, haliya, lea, lia, lahia, jhai, jahi, lai jhahik,  moyuman, beuing, hairale, masin manas, reja, pimedas, jahja, padeh, sipode, sipadas,pege, bahing, ai manas, naije, sedap, sehi, sewa, laie, gore, gisoro, gihori, dan yoyo.
Ø  Identifikasi Simplisia
A.    Makroskopik
Bentuk bulat telur terbalik, pada setiap cabang terdapat parut melekuk ke dalam. Dalam bentuk potongan, panjang umurnya 3-4 xm, tebal 1-6,5 mm. bagian luar berwarna coklat kekuningan, beralur memanjang, kadang-kadang terdapat serat bebas. Bekas patahan pendek dan berserat menonjol. Pada irisan melintang terdapat berturut – turut korteks sempit yang tebalnya lebih kurang sepertiga jari – jari dan endodermis. Berkas pengangkut tersebar berwarna kelabu. Sel kelenjar berupa titik lebih kecil berwarna kekuningan.
(Depkes RI, 2008 : 25)
B.     Organoleptik
Berupa rimpang agak pipih, bagian ujung bercabang pendek, warna putih kekuningan, bau khas, rasa pedas (Depkes RI, 2008 : 25-26).
C.     Ciri lainnya
Habitus
Tanaman jahe merupakan terna tahunan, berbatang semu dengan tinggi antara 30 cm – 75 cm. berdaun sempit memanjang menyerupai pita, dengan panjang 15 cm – 23 cm, lebar lebih kurang 2,5 cm, tersusun teratur dua baris berseling. Tanaman jahe hidup merumpun, beranak – pinak, menghasilkan rimpang, dan berbunga. Bunga berupa malai yang tersembul pada permukaan tanah, berbentuk tongkat atau bulat telur, dengan panjang lebih kurang 25 cm. mahkota bunga berbentuk tabung, dengan helaian agak sempit, tajam, bewarna kuning kehijauan. Bibir mahkita bunga berwarna ungu dan berbintik – bintik putih kekuning – kuningan. Kepala sari berwarna ungu dan mempunyai dua tangkai putik.
Rimpang jahe memiliki bentuk yang bervariasi, mulai dari agak pipih sampai gemuk (bulat panjang), dengan warna putih kekuning – kuningan hingga kuning kemerah – merahan. Rimpang jahe mengandung minyak atsiri. Minyak atsiri adalah minyak yang mudah menguap dan memberikan bau khas pada jahe. Minyak atsiri mengandung komponen utama yang berupa senyawa zingiberen (C12H24) dan zingiberol (C12H26O2). Senyawa yang menyebabkan rimpang jahe berasa pedas dan agak pahit adalah oleoresin (fexed oil). Senyawa oleoresin yang terdapat dalam rimpang jahe adalah sebanyak 3% - 4%. Senyawa oleoresin ini dapat diekstrak dengan pelarut alcohol, seton, ataupun ester. Komponen utama oleoresin berupa senyawa gingerol (C14H26O4, C18H28O5), shogaol (C7H24O3), dan resin. Disamping itu minyak jahe juga mengandung senyawa – senyawa pinen, kamfren, felandren, sineol, metilheptenon, linalool, bormeol, sitral, α dan β zingiber, α kurkume, farnesen, seskuiterpen, alcohol,C10 dan C9 aldehid, yang digunakan secara luas dalam industry makanan, minuman, dan obat – obatan.minyak atsiri dan oleoresin terdapat dalam semua jaringan rimpang, tetapi paling banyak terdapat dibawah jaringan epidermis. Oleh karena itu, penanganan rimpang jahe, terutama aktivitas pengupasan, harus dilakukan secara hati – hati, sehingga kulit yang terkelupas setipis mungkin (Rukmana, 2004: 13-14)
D.    Mikroskopik
            Fragmen pengenal adalah butir amilum yang banyak, pembuluh kayu, berkas pengangkut, periderm, serabut, dan jaringan gabus tangensial (FHI, )
E.   Organoleptik serbuk
   Bau khas aromatic menyengaat, rasa pedas, tersa panas dan menggigit, lama-kelamaan rasa hilang (AHPA, 2015).
4)   Nama Tanaman       : Tapak Liman
Nama Simplisia      : Elephantopi Herba (herba tapak liman), Elephantopi Radix (akar tapak liman).
Nama Latin            : Elephantopus scaber L.
Nama Daerah         : Sumatera        : Tutup Bumi (Melayu)
 Jawa                : Balagaduk, jukut cangcang-cangcang,     tapak  liman (Sunda), tapak liman, tampak liman, tapak tangan (Jawa)
Madura           : Talpak tana.
Sinonim                  : Asterocephalus cochinchinensis Soreng, Scabiosa cochinchinensis Lour.

Ø  Identifikasi Simplisia
A.    Makroskopik
Tapak liman memiliki batang pendek dan kaku, tingginya mencapai 30 – 60 cm, dan berambut kasar. Daun tunggal berkumpul pada permukaan tanah membentuk roset akar. Daun bentuknya lonjong, tepi melekuk dan bergerigi tumpul, ujung tumpul, permukaan berambut kasar, pertulangan menyirip, warna hijau tua, panjang 10 – 18 cm, lebar 3 – 5 cm. Tangkai bunga keluar dari tengah-tengah roset dengan tinggi 60 – 75 cm. Batang tangkai bunga kaku dan liat, berambut panjang dan rapat, bercabang dan beralur. Daun pada tangkai bunga kecil, letaknya jarang, panjang 3 – 9 cm, lebar 1 – 3 cm. Bunga majemuk berbentuk bongokol, letaknya di ujung batang, berwarna ungu, mekar apda siang hari sekitar pukul satu siang dan menutup kembali pada sore hari. Buah berupa longkah yang keras, berambut, berwarna hitam. Akarnya tunggang besar berwarna putih. (Dalimartha, 2003: 155)
B.     Organoleptik
Tumbuhan berwarna hijau, daun bergelombang berbentuk lonjong, bunga majemuk berbentuk bongkol, buah berupa buah longkah keras, akarnya akar tunggang berwarna putih. Rasa agak pahit, pedas, sifat sejuk, astringen. (Dalimartha, 2003: 155)
C.     Ciri lainnya
Habitat
Tapak liman tumbuh liar, kadang ditemukan dalam jumlah banyak di lapangan rumput, tepi jalan. Tapak liman dapat ditemukan di dataran rendah sampai ketinggian 1.200 m dpl.
Tanaman:
Tapak liman memiliki batang pendek dan kaku, tingginya mencapai 30 – 60 cm, dan berambut kasar. Daun tunggal berkumpul pada permukaan tanah membentuk roset akar. Daun bentuknya lonjong, tepi melekuk dan bergerigi tumpul, ujung tumpul, permukaan berambut kasar, pertulangan menyirip, warna hijau tua, panjang 10 – 18 cm, lebar 3 – 5 cm. Tangkai bunga keluar dari tengah-tengah roset dengan tinggi 60 – 75 cm. Batang tangkai bunga kaku dan liat, berambut panjang dan rapat, bercabang dan beralur. Daun pada tangkai bunga kecil, letaknya jarang, panjang 3 – 9 cm, lebar 1 – 3 cm. Bunga majemuk berbentuk bongokol, letaknya di ujung batang, berwarna ungu, mekar apda siang hari sekitar pukul satu siang dan menutup kembali pada sore hari. Buah berupa longkah yang keras, berambut, berwarna hitam. Akarnya tunggang besar berwarna putih (Dalimartha, 2003: 155).
Simplisia
Elephantopi Scaberis Folium adalah daun tanaman Elephantopus scaber L., tidak berbau, mula-mula tidak berasa, lama kelamaan agak pahit. Daun tunggal, warna hijau tua sampai hijau kelabu, rapuh, bentuk jorong sampai bundar telur sungsang, ujung runcing, pangkal daun mengecil, panjang daun 5-25 cm, lebar 2-7 cm. Tepi daun tidak berlekuk atau berlekuk tidak beraturan, bergerigi tidak rata, permukaan daun berambut. Pada permukaan bawah, tulang daun lebih menonjol dari pada permukaan atas. Tangkai daun, panjang lebih kurang 2 cm, berbentuk seperti pelepah, bagian pangkal membungkus batang. (Badan POM Indonesia. 2008: 13)
D.    Mikroskopik
Fragagmen pengenal adalah fragmen rambut penutup, fragmen serabut, sel batu, parenkim dengan hablur kalsium oksalat berbentuk roset atau prisma, pembuluh kayu.
E.     Organoleptik serbuk
Berwarna coklat kekuningan, berbau lemah, tidak khas, rasa tawar, tidak berbau serta tidak berasa.
 
Elephantopus scaber L.

 










                                                                                             III.            HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
III.       HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

1)      Guazumae Ulmifoliae Folium
a.    Makroskopik
                     keterangan :           serbuk berwarna hijau kecoklatan sampai coklat muda, berbau khas lemah, rasa agak kelat, daun bundar menjorong sampai lanset, ujung daun meruncing, tepi dau bergerigi, permukaan daun kasar, tangkai daun panjang 5-25 mm. (FHI,2008)
b.    Mikroskopik
                            Keterangan : rambut penutup berbentuk biintang, dan rambut penutupy yang berada ditulang daun. (FHI,2008)

               
 keterangan : serabu dengann kristal kalsium oksalat, dan rambut kelenjar dengan kristal kalsium oksalat. (FHI,2008)
Rambut penutup berbentuk bintang (khas)
Rambut kelenjar
Epidermis atas
Pembuluh kayu penebalan tangga
Hablur kalsium oksalat
 

Keterangan : yang terdapat dalam mikroskop saat praktium identifikasi 1
c.     Pembahasan
Daun jati belanda (Guazumae Ulmifoliae Folium) merupakan salah satu jenis tanaman herbal alami yang bisa membantu dalam proses pembentuka lemak, membantu menguruskan dan melangsingkan badan. Reagen yang digunakan dalam idenifikasi ini yaitu kloralhidrat karena untuk mengetahui ada atau tidaknya hablur kalsium oksalat  dan untuk mengidentifikasi fragmen spesifik dalam sampel tersebut. Fragmen yang ditemukan pada simplisia sampel yang menggunakan reagen kloralhidrat berupa hablur kalsium oksalat, pembuluh kayu dengan penebalan tangga, epidermis atas, rambut kelenjar dan rambu penutup berbentuk bintang. Fragmen yang khas dalam simplisia sempel ini adalah adanya rambut penutup berbentuk bintang yang terlihat sangat jelas sehingga memastikan bahwa simplisia sampel ini menujukan guazumae ulmifolia folium (daun jati belanda).
2)      Piperis Retrofracti Fructus
. a. Makroskopik
Simplisia berbentuk bulat panjang sampai silindris, berwarna hijau coklat kehitaman atau hitam, keras, bau khas aromatis, rasa pedas.
                                       
Simplisia Piperis Retrofracti Fructus                 Serbuk Piperis  Retrofracti Fructus
b. Mikroskopik
Fragmen pengenal diamati dibawas mikroskop dengan perbesaran 40x. Ntuk melihat fragmen pengenal ditetesi senyawa kimia kloral hidrat (Chloral Hydrate Solution). Dalam pengamatan terdapat fragmen pengenal berupa sel batu, perisperm dengan butir pati, endokarp, dan hipodermis dengan sel batu.





Mikroskopik Piperis Retrofrati Fructus:
                                                          
          Epikarp                                                                            Endokarp
                                                        
         Sel batu                                                               Perisperm dengan butir pati

 



                                                                  Keterangan :
1.      Sel batu
2.      Endokarp
3.      Perisperm dengan butir pati


c. Pembahasan
Pada sampel 2, simplisia yang diberikan adalah simplisia Piperis Retrofracti Fructus, Sampel serbuk berwarna kelabu kecoklatan, fragmen-fragmen terlihat setelah pemberian senyawa kimia yaitu kloral hidrat dengan pembesaran 40x. Fragmen pengenal pada simplisia Piperis Retrofracti Fructus adalah terdapatnya fragmen pengenal berupa sel batu, perisperm dengan butir pati, endokarp, dan hipodermis dengan sel batu. Pada saat identifikasi sampel dua kelompok kami memperkirakan bahwa sampel dua adalah simplisia Amomi Compacti Fructus, kelompok kami memperkirakan bahwa sampel tersebut adalah buah kapulaga karena ditandai dengan rasanya yang pedas pada saat dicicipi juga miliki bau yang sama yaitu baunya khas aromatis, kemudian fragmen pada sampel tersebut adanya perisperm dengan butir pati yang kami lihat seperti sklerenkim palisade, adanya seperti serabut sklerenkim dan kami tidak menemukan adanya sel batu seperti yang seharusnya terdapat pada simplisia Piperis Retrofracti Fructus. Sehingga kelompok kami menyimpulkan bahwa sampel kedua adalah buah kapulaga atau Amomi Compacti Fructus yang seharusnya adalah buah cabe jawa atau Piperis Retrofracti Fruktus.
3)      Zingiberis Officinalis Rhizoma
a.       Makroskopik
Simplisia kering berbentuk persegi panjang, berwarna coklat, bau khas aromatik, serbuk berwarna kuning kecoklatan.
         Serbuk Zingiberis Officinalis Rhizoma

b.      Mikroskopik







Fragmen pengenal diamati dibawah mikoskop dengan perbesaan 10x dan 40x. Untuk melihat fragmen pengenal ditetesi senyawa kimia Kloral Hidrat (Chloral Hydrate Solution). Pada pengamatan, diamati beberapa fragmen pengenal diantaranya butir pati pada perbesaran 10x, parenkim pada perbesaran 40x, serabut sklerenkim yang patah dan berdinding tebal pada perbesaran 40x, dan pembuluh kayu berpenebalan spiral pada perbesaran 40x dimana di bagian atasnya terdapat serabut sklerenkim dan di bagian bawahnya terdapat sel-sel minyak yang memanjang.
Keterangan:                                  
1.      Butir pati
2.      Parenkim
3.      Serabut sklerenkim dinding tebal
4.      Pembuluh kayu berpenebalan spiral dengan serabut sklerenkim di atas dan sel minyak memanjang di bawah
c.       Pembahasan
Pemilihan simplisia zingiberis officinalis rhizome dikarenakan pengamatan organoleptic yang dilakukan yaitu serbuk berwarna kuning kecoklatan yang menandakan simplisia merupakan salah satu dari radix, cortex, fructus, atau rhizome. Kemudian dilakukan uji bau dan rasa. Bau yang dicium sangat khas dan menyengat, rasa dari serbuk inipun pedas dan agak panas. Hal tersebut mengarah pada simplisia fructus atau rhizome. Setelah dilakukan pengamatan dibawah mikroskop, praktikan dapat mengamati beberapa fragmen pengenal. Fragmen yang teramati diantaranya adalah parenkim, serabut sklerenkim yang patah dan memiliki dinding tebal, terdapat banyak butir pati, juga terdapat pembuluh kayu berpenebalan spiral dimana bagian atasnya melekat serabut sklerenkim dan dibagian bawahnya melekat sel –sel minyak yang memanjang.
            Pada saat praktikan menguji organoleptic dari serbuk simplisa tersebut telah diketahui jenis tumbuhan yang dimaksud, hipotesis ini diperkuat dengan kesesuaian fragmen yang teramati. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tanaman dari serbuk simplisia yang diidentifikasi adalah tanaman jahe (Zingiber officinale Roxb)


4)      Elephantopi Radix
a.       Makroskopik
Simpilsia berbentuk tabung berwarna coklat, berbau lemah, serbuk berwarna coklat kekuningan.
                                Simplisia Elephantopi Radix

b.      Mikroskopik
Fragmen pengenal diamati dibawah mikoskop dengan perbesaan 10x dan 40x. Untuk melihat fragmen pengenal ditetesi senyawa kimia Kloral Hidrat (Chloral Hydrate Solution). Dalam pengamatan terdapat fragmen pengenal berupa rambut penutup pada perbesaran 40x, hablur kalsium oksalat pada perbesaran 40x, terdapat pembuluh kayu dengan penebalan spiral pada perbesaran 40x, dan parenkim dengan kalsium oksalat pada pebesaran 10x.
                                                      Keterangan:                                  
1.       
2.       
3.       
4.       



 mikroskopik Elephantopi Radix
c.        Pembahasan
Pemilihan simplisia Elephantopi Radix dikarenakan karena dari organoleptik teramati bahwa sampel berwarna coklat keputihan hal ini menandakan bahwa sampel merupakan bagian salah satu bagian dari radix, cortex, fructus, ataupun rizoma. Pada saat dicicipi ternyata sampel ini tidak berbau serta tidak berasa, hal ini meyakini bahwa sampel bukan simplisia fructus, dan cortex. Pada saat dilihat dibawah mikroskop terdapat fragmen pengenal yang terlihat yaitu rambut penutup yang runcing, banyak terdapat hablur kalsium oksalat berbentuk prisma, pembuluh kayu dengan penebalan spiral. Pada rhizoma tidak terdapat fragmen pengenal berupa rambut penutup yang runcing selain itu pada rhizoma tidak terdapat fragmen pengenal berupa hablur kalsium oksalat berbentuk prisma. Sehingga sampel ini bukan termasuk simplisia rhizoma. Pada radix yang terdapat rambut penutup yang runcing, hablur kalsium oksalat berbentuk prisma, pembuluh kayu penebalan spiral hanya terdapat pada Elephantopi Radix. Hal ini diperkuat setelah melihat ulang bahawa sampel yang diamati merupakan serbuk berwarna coklat kekuningan. Yang memiliki serbuk berwana coklat kekuningan pada radix diantara Catharanti Radix, Elephantopi Radix, dan Rhei Officinalis Radix hanya Elephantopi Radix. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel tersebut merupakan simplisia dari Elephantopus scaber L. Yaitu Elephantopi Radix








IV.    KESIMPULAN

-          Hasil identifikasi yang memastikan pada sampel nomor 1 yaitu dengan adanya rambut penutup berbenuk bintang yang brdasarkan fragem pengenal yang khasnya itu adalah Guazumae Ulmifolia Folium (daun jati belanda) dengan ciri organolepstis serbuk berwarna hijau, berbau khas, dan rasa agak kelat.
-          Hasil identifikasi sampel nomer 2 yang seharusnya adalah Piperis Retrofracti Fructus ditunjukan dengan beberapa ciri khas dan organoleptis yang menandakan bahwa sampel tersebut adalah Piperis Retrofracti Fructus.
-          Hasil identifikasi sampel nomor 3 yaitu Zingiberis Officinalis Rhizoma yang ditunjukkan oleh kesesuaian pada uji organoleptic dan pengamatn fragmen – fragmen pengenal dibawah mikroskop.
-          Hasil identifikasi sampel nomor 4 yaitu Elephantopi Radix ditunjukan dengan beberapa ciri khas dan organoleptis yang menandakan bahwa sampel tersebut adalah Elephantopi Radix.









DAFTAR PUSTAKA

American Herbal Production Association. 2015. “Zingiber Officinale (Rhizome)”.
Diakses pada 5 Januari 2017 pukul 06.30 WIB. http://www.botanicalauthentication.org/index.php/Zingiber_officinale_(rhizome)#cite_ref-2
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2008. Acuan Sediaan Herbal. Vol 4. Ed. 1. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Becker, C.A., Bakhuizen van den Brink. 1962. Flora of java (spermatophytes          only), vol. I, Wolrters-Noordhoff N.V.P., Groningen.
Dalimartha, Setiawan. 2003. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid 3. Jakarta:  Puspa Swara.
Departemen Kesehatan RI. 2008. Farmakope Herbal Indonesia. Edisi I. Jakarta : Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Hariana, Arief. 2006. Tumbuhan Obat & Khasiatnya 3. Jakarta: Penebar Swadaya.

Kametani,S., Kikuzaki,H., Honzawa,M., Nakatani. 2005. Chemical constituents of Piper retrofractum Vahl and their antioxidan and radical scavenging activities. ITE Letter.
Moeloek, N. 2006. Uji klinik ekstrak cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) sebagai fitofarmaka and androgenik pada pria hipogonad, Laporan akhir penelitian. Jakarta: PROM-Badan POM RI.
Rukmana, Rahmat. 2004. Usaha Tani Jahe. Yogyakarta : Kanisius

Sharmiati,2003. Khasiat & Manfaat Jati Belanda Si Pelangsing dan Peluruh Kolestrol. Jakarta: AgroMedia Pustaka

1 komentar:

  1. Casino - Dr.D.M.C.
    Visit the casino directly on Facebook to 과천 출장샵 join 전라북도 출장샵 in 포항 출장안마 the action. Create account · Log 제주 출장마사지 in · Earn Rewards. Casino. Welcome Bonus. Visit 평택 출장마사지 Dr.D.M.C.

    BalasHapus