puisi amatir
Pena
Dikala isak tangis yang berbicara
Pikiran menolak tuk berputar
Tubuh inipun tunduk dengan adanya
Kugoreskan perlahan tinta biru
dalam hamparan putih kertas masa lalu
Kata demi kata mengalun seraya berirama
tak dapat ku tangkap makna
kiasan torehan tinta biru
Aku tak tau
Namun samar ku tangkap
Sebuah gambar yang pena goreskan
Ku lihat lebih dalam
dan kini aku tau
Aku mengerti
Pena yang menuliskan isi hati
Yang bahkan sulit untuk kumengerti
Mama, Papa...
Aku mengerti
Betapa aku merindu kehadiranmu
Betapa aku hanyut dalam belaian kasih sayang masa lalu
Aku mengerti akan nasihatmu dulu pa..
Bahwa kehidupan ganas akan menerpa
Namun aku disini, berdiri disini
Siap diterpa topan sekalipun
Hanya sekedar pembuktian baktiku
Anakmu pa..
Semilir angin dan alunan irama hewan malam
yang menemaniku di kesunyian ini
Ma.. pa.. doakan anakmu disini
Agar kelak dapat menerbitkan senyum
Dapat menebarkan air mata kebahagiaan
Dan dapat menghiasi mata dengan binaran kebanggaan
Salam anakmu dan sang pengungkap semua rasa
Pena...
Post a Comment